Perempuan Berjuang

Seperti ban ditengah kali
Hantaman datang berkali-kali
Jiwa mu tegar dan tak peduli
Kekuatan hati mu menggerakkan mereka
Perempuan yang menderita
Korban patriarki dan kekerasan semata
Kelembutan mu membuat mereka merasa nyaman
Meyakinkan mereka untuk bersatu dan melawan

Lantang Teriakan mu membakar semangat mereka
Buruh perempuan yang memperjuangkan hak nya
Moncong senjata diarahkan ke kepala mu
Kata kata mu semakin keras dan tak ragu

Kau mengajarkan arti sebuah ketulusan perjuangan ke padaku
Sehingga jiwa ini terbangun dari belenggu
Kerut kulit tangan mu tidak mengerutkan semangat mu
Berat lemak di tubuh mu tidak menyurutkan langkah mu
Untuk terus bersuara, berdiskusi dan berlawan
Sampai kemenangan datang…

YNR

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Ga Kapok, Aku Tetap Mogok Nasional

Ari Widiastari Pada aksi menolak PP tentang Pengupahan No.78/2015, Jumat, 30 Oktober yang lalu, aku ikut terlibat,meski nyusul jam 3 sore. Aku sering kali sesak

Menyegarkan Pergerakan Bersama Kafe Kobar

Kelompok Belajar Perburuhan (Kobar), sebuah kelompok belajar yang diinisiasi oleh Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), mengadakan Pendidikan Singkat Ekonomi-Politik untuk Kaum Muda pada Jumat hingga

Penyalin Cahaya, Kisah Korban Mencari Keadilan

Penyalin Cahaya adalah sebuah film berdurasi sekitar dua jam yang mengisahkan tentang Suryani, seorang mahasiswi dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah yang harus berjuang melalui jalur beasiswa untuk kuliah. Dengan berbekal beasiswa, Suryani berhasil menempuh pendidikan tinggi tanpa perlu merepotkan kedua orang tuanya yang hidup dari usaha warteg (warung tegal).

AKIBAT  BBM  NAIK

BBM  naik  buruh  bertambah  beban BBM  naik  supir  terkena  imbas BBM naik  semua  kalangan  terkena  dampaknya BBM  naik  seluruh  rakyat  pasti  menjerit   Jaman  sekarang 

Berjuang, Agar Korban Jadi Pejuang

Nama saya Ajeng Pangesti Anggriani, saya lahir di Bogor. Ibu saya berdarah Sunda asli dan bapak saya Jawa tulen tapi tidak satupun bahasa daerah yang

UPACARA di PABRIK (sebuah puisi)

Oleh Lami    Setiap hari Senin mengingatkanku waktu aku masih sekolah   Tapi upacaraku tidak di tengah lapangan melainkan di tengah tengah mesin tua disamping